Ijo royo-royo. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

PESANTREN AGRIBISNIS

BAB I

PENDAHULUAN

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia pertanian kita dari waktu ke waktu tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Ini dipengaruhi oleh pola diregulasi kebijakan pemerintah yang cenderung menduakan sektor ini, di mana kebijakan-kebijakan yang ditetapkan sering kali tumpang tindih sehingga sangat menyulitkan dalam mengimplementasikan di lapangan yang akhirnya berakibat pada lambatnya perkembangan sektor ini.

Perkembangan sektor agribisnis yang lambat ini salah satu faktor penyebabnya adalah tidak adanya lembaga / organisasi agribisnis ditingkat usaha agribisnis on farm yang sehat atau eksis dalam jangka panjang.

Kekeliruan utama dalam pembangunan pertanian mencerminkan kemarjinalan konsep kelembagaan lokal, yang mampu menggambarkan pengaruh dari dampak krisis terhadap perekonomian nasional. Kemarjinalan kelembagaan lokal di pedesaan dapat ditunjukkan oleh kelemahan dalam pengembangan dan penerapan aspek kepemimpinan.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang selama ini seringkali dianggap lapisan bawah, Pondok Pesantren telah memberi sumbangan besar terhadap pengembangan masyarakat di sekitarnya. Namun demikian, karena Pondok Pesantren merupakan lembaga keagamaan, sebagian besar cenderung kurang memperhatikan pengembangan ekonomi.

Usaha Pondok Pesantren untuk mandiri menjadikan mereka lebih berfokus pada agribisnis selama beberapa tahun terakhir. Hal ini dikarenakan lokasi pondok pesantren yang berada di pedesaan yang sebagian besar memiliki lahan yang cukup luas, ditambah lagi dengan kedekatan mereka dengan masyarakat setempat, menempatkannya dalam posisi baik sekali untuk menjadi penganjur dan tempat keunggulan di bidang pertanian. Dalam memberikan dukungan kepada Pondok Pesantren ini, pemerintah daerah dapat menetapkan penyediaan input di bidang agribisnis melalui Program Pengembangan Pondok Pesantren Berbasis Agribisnis.

Potensi utama dari pondok pesantren adalah tersedianya sumber daya manusia dengan cukup banyak yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan agribisnis yaitu para santri.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Hermanto (2007) ada dua pengertian kelembagaan yang sering digunakan oleh ahli dari berbagai bidang, yaitu yang disebut institusi atau pranata dan organisasi. Pengertian kelembagaan sebagai pranata dapat dikenali melalui unsur-unsurnya, seperti aturan main, hak dan kewajiban, batas yurisdiksi atau ikatan dan sangsi. Selanjutnya, kelembagaan dalam pengertian organisasi, disamping keempat unsur tersebut juga dicirikan terdapatnya struktur organisasi, tujuan yang jelas, mempunyai partisipan dan mempunyai teknologi serta sumberdaya.

Dalam organisasi aturan main biasanya tertulis dalam bentuk Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), dan struktur dapat dikenali dengan adanya kepengurusan dalam organisasi seperti ketua, wakil ketua, bendahara, sekretaris, dan sebagainya.

Menurut Jabal Tarik (2010) dalam bahan ajar organisasi pada program pasca sarjana Manajemen Agribisnis disebutkan bahwa salah satu vulnerabilitas (Sifat Tidak Efektif dan Tidak Bisa Berkembang) dari sebuah organisasi adalah adanya resistensi atau penolakan dari kelompok masyarakat disekitar organisasi, penolakan dari elit lokal/regional tertentu, penduduk desa atau oleh organisasi tertetu yang memiliki conflict interest. Ini adalah penyebab utama dan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan sebuah organisasi termasuk di dalamnya organisasi agribisnis.

Hasil penelitian Hadi (1991; 1995; 1997) menunjukkan bahwa proses adopsi inovasi dari kontak tani ke anggota kelompok akan dapat berjalan apabila kontak tani tersebut adalah pemimpin aspiratif yang dipilih oleh anggotanya. Meskipun kelompok dibentuk dengan pola top down, akan tetapi apabila pemimpin kelompok tersebut berasal dari tokoh adat/ agama yang disegani, dan aturan-aturan setempat yang

berlaku disepakati sebagai aturan kelompok, maka keberadaan kelompok tersebut akan dapat berjalan dengan baik.

Dalam pengembangan agribisnis, menurut E. Wilk dan J. Fensterseifer (2003) dalam The International Food and Agribusiness Management disebutkan bahwa stake holders yang berkaitan dengan agribisnis adalah sebagaimana tercantum dalam gambar berikut ini :

Dari gambar diatas nampak bahwa harus ada sinergistas diantara stake holders baik dari pemerintah, lembaga litbang pertanian, LSM, produsen Saprodi, usaha petani, pengolah makanan, distribusi dan pemasaran. Stake holders tersebut dikelola dengan baik dalam suatu jaringan agribisnis yang mantab.

Menurut Kedi S., (2008) Proses pengambilan keputusan dalam masyarakat petani merupakan suatu tindakan berbasis kondisi komunitas (community-based action) yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu celah masuk (entry-point) upaya diseminasi teknologi. Pondok pesantren yang merupakan suatu komunitas, maka dapat dijadikan entry point dalam pengembangan agribisnis karena memiliki beberapa keunggulan diantaranya tersedianya sumber daya manusia dan adanya patron client dalam pondok pesantren.

BAB III

PONDOK PESANTREN AGRIBISNIS

A. Pesantren dan Pedesaan

Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim, bahkan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sudah barang tentu memiliki lembaga pendidikan keagamaan islam untuk memperdalam ilmu keagamaan baik secara formal maupun non formal. Lembaga pendidikan formal biasanya bernaung dibawah kementerian agama dan kementerian pendidikan seperti mulai dari madrasah diniyah, madarasah ibtidaiyah, madarasah tsanawiyah, madarasah aliyah hingga perguruan tinggi.

Sedangkan pendidikan non formal ditempuh melalui pendirian pondok pesantren oleh tokoh-tokoh agama di masyarakat. Pada umumnya lembaga pendidikan Pondok pesantren ini berlokasi di pedesaan yang nota bene berbasis pertanian / agribinis. Banyak Pondok Pesantren yang memiliki lahan yang luas. Salah satu contoh pondok pesantren Darunnajah Cipining Kabupaten Bogor yang memiliki luasan lahan hingga mencapai 70 hektar. Pondok Pesantren Al-ittifaq di Bandung tidak hanya mengusahakan lahan pertanian sendiri namun mampu menampung hasil pertanian dari kelompok tani di sekitar pondok pesantren untuk dipasarkan.

Sebuah pondok pesantren di Wajak – Malang memiliki lahan beberapa hektar yang ditanami dengan tanaman tahunan jenis Mindi dan di bawah tegakan Mindi ditanamani tanaman musiman seperti cabai dan empon-empon dan semuanya dikerjakan oleh santri yang berada dalam pondok pesantren tersebut.

B. Pesantren dan Kepemimpinan

Aspek kepercayaan (trust) dalam kepemimpinan untuk menggerakkan para santri ke arah kemajuan merupakan sesuatu yang sangat penting, dan akan dihargai serta dihormati jika pemimpin pondok pesantrem memiliki keunggulan karena mampu memecahkan dan mengatasi masalah masyarakat termasuk masalah produksi dan ekonomi pertanian di sekitar pondok pesantren.

Hal ini penting untuk menghindarkan munculnya sifat ‘manja’ dan ‘ketergantungan’ petani terhadap bantuan pemerintah, yang akan menyebabkan kemerosotan daya kreatif petani dalam mengelola sumberdaya pertanian di daerahnya.

Seorang pemimpin juga harus mampu merepresentasikan kepentingan masyarakat dan menghilangkan sifat mementingkan diri dan golongannya semata. Para santri juga mengharapkan semangat “altruistik” (mau berkorban lebih dulu) dari seorang pemimpin, agar memperoleh simpati dan kepercayaan santri dan masyarakat yang otomatis tentu akan menjadi pendukungnya (misalnya, merintis jalur pemasaran lintas desa/daerah, memperhatikan sarana dan prasarana pertanian, irigasi dan mengembangkan diversifikasi usahatani).

Seorang pemimpin pondok pesantren agribisnis diharapkan memiliki visi dan misi yang jelas dan ditranparansikan ke para santri dan masyarakat sekitar, memiliki pemahaman local knowledge yang baik, mampu menggerakkan inspirasi kekolektifitasan antar santri dan petani serta terorganisir dengan baik (dengan menunjukkan contoh keberhasilannya dibanding secara individualistik), serta mentransmisi dan mendinamisasi persaingan sehingga menjadi energi kolektif kemajuan masyarakat setempat.

Seorang pemimpin pondok pesantren merupakan patron client bagi santrinya, dimana apa yang diputuskan oleh pemimpin pondok pesantren akan diikuti oleh para santrinya. Bagi pemimpin pondok pesantren yang sudah besar, ia merupakan patron client dari masyarakat sekitarnya. Apa yang disampaikan dan diputuskan sang pemimpin tidak hanya dipatuhi dan dilaksanakan oleh para santrinya akan tetapi juga oleh masyarakat sekitarnya.

C. Pesantren dan Agribinis

Pondok Pesantren bergerak di bidang pengembangan pendidikan agama, dan berjalan sebagai lembaga yang otonom. Karena Pondok Pesantren bisa berlatarbelakang madzab atau aliran agama apapun, dan merupakan milik bermacam-macam masyarakat, sehingga setiap Pondok Pesantren mempunyai nilai, struktur manajemen dan kegiatan yang sangat berbeda-beda.

Pengembangan Pondok Pesantren Berbasis Agribisnis harus dimulai dari tiga elemen, yaitu:

  1. Pengembangan/penguatan Istitusi.

Agar supaya mempersiapkan pondok pesantren guna memikul peranan ini, khususnya berkenaan dengan pengembangan ekonomi setempat, petunjuk kelembagaan yang sungguh-sungguh dan penguatan akan dibutuhkan. Kedua hal ini akan ada didalam pesantren itu sendiri, dan juga didalam lembaga-lembaga desa yang relevan.

Penguatan intitusi ke dalam organisasi pesantren dilakukan dengan membangun kerja sama dengan para santri. Tujuan utamanya adalah untuk membangun kepercayaan diri dari para santri dimana pada awalnya para santri ini merasa tidak memiliki apa-apa menjadi orang yang merasa sebagai potensi sumber daya manusia yang handal. Sedangkan penguatan intitusi keluar adalah dengan bekerja sama dengan organisasi-organisasi yang ada disekitar pondok pesantren baik yang berorientasi bisnis maupun sosial.

  1. Pengembangan Sumberdaya Manusia.

Pengembangan Sumberdaya Manusia diselenggarakan dalam dua tingkatan; pengembangan sumberdaya manusia didalam Pondok Pesantren itu sendiri, dan diantara anggota-anggota masyarakat yang dipilih untuk itu yang berminat dalam hal pengembangan agribisnis. Di sini faktor kepemimpinan sangat diperlukan. Pemimpin pondok pesantren yang memiliki ilmu agribisnis yang mantap akan mudah untuk diikuti oleh para santri. Oleh karenanya pemimpin pondok pesantren harus selalu mengupdate pengetahuan dan ketrampilan dalam agribisnis dengan mengikuti berbagai macam diklat agribisnis serta mengikuti magang ke berbagai perusahaan agribisnis baik yang ada di dalam negeri maupun yang ada di luar negeri. Hal ini akan menambah rasa percaya diri para santri sehingga timbul semangat untuk melaksanakan usaha agribisnis.

Disamping pengembangan sumberdaya manusia dari Pondok Pesantren itu, yang pada dasarnya berfokus pada guru-guru, pengembangan sumberdaya manusia juga menjadikan masyarakat yang berdiam disekitar lokasi Pondok Pesantren sebagai target sasaran, baik secara formal maupun berupa "on the job" training.

  1. Model inkubator guna pengembangan Pusat Agribisnis Masyarakat.

Ungkapan tersebut mengacu pada prinsip pemeliharaan terhadap sebuah inti keahlian guna meningkatkan modal dan memfasilitasi perluasan ketrampilan didalam masyarakat. Model Inkubator dalam Pengembangan Pusat Agribisnis akan digunakan sebagai laboratorium pengalaman bagi Pondok Pesantren dan sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat disekeliling mereka. Bagi kegiatan-kegiatan dalam masyarakat, pengembangan sepertinya mengarah kepada yang berorientsi pada kelompok dan diharapkan akan menghasilkan sebuah plasma guna pengembangan kelompok masyarakat agribisnis dimasa yang akan datang, dibawah bimbingan dari pesantren itu.

Pondok pesantren yang berhasil dalam bidang agribisnis bisa menjadi pusat studi banding dari pondok pesantren lainnya dalam bentuk P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya). P4S bukan semata-mata tempat belajar dan berlatih akan tetapi lebih berorientasi untuk membangun jaringan agribisnis yang kuat.

Tidak selamanya usaha agribisnis yang sudah berhasil dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Harus ada usaha dan strategi dalam pengelolaan agribisnis, diantaranya :

1. Pemilihan Komoditi.

Komoditi yang ditanam di lahan pertanian pondok pesantren dan sekitarnya adalah komoditi yang diminta pasar, baik pasar tradisional maupun pasar Swalayan. Dalam proses pelaksanaan pengolahan pertanian, dilaksanakan secara terpadu, hal ini sangat penting untuk dilakukan mengingat prioritas kebutuhan pasar.

2. Perencanaan.

Dalam upaya memenuhi permintaan pasar sesuai dengan kontrak kerjasama/kemitraan antara pondok pesantren baik melalui KUD atau langsung dengan pengusaha, telah dilakukan koordinasi dengan kelompok tani lainnya yang bernaung di dalam wadah koperasi pondok pesantren.

3. Proses Pengelolaan.

Dalam pengelolaan Agribisnis tersebut, para santri dibagi ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan minat dan tingkat pendidikan dan keterampilan khusus yang di miliki para santri. Secara umum pembagian tugas para santri dan Ustad tersebut adalah :

a. Pengurus Inti Organisasi Agribisnis,

b. Kesekretariatan,

c. Mandor Kebun,

d. Pengemasan,

e. Pemasaran,

f. Pekerjaan lapangan, dan

g. Pengadaan Barang.

4. Kontrak Kerjasama dan Pemasaran.

Kontrak kerjasama/kemitraan merupakan bagian yang terpenting sehingga hasil pertanian dapat langsung dipasarkan tanpa kekhawatiran tidak terjual.

D. Networking Agribisnis

Usaha agribisnis tidak akan berhasil tanpa adanya suatu jaringan. Hasil produksi unit farm agribisnis yang melimpah akan tidak ada artinya jika tidak dapat dipasarkan dengan baik. Oleh karenanya perlu adanya jaringan usaha yang dapat memberi keuntungan kepada masing-masing pihak. Networking agribisnis yang baik hanya dapat dicapai dengan kepercayaan diantara berbagai pihak. Apalagi dalam usaha agribisnis dimana suplier tidak hanya harus mampu memenuhi standart kualitas namun juga kuantitas dan ketetapan waktu serta kontinuitas produk yang dihasilkan.

Dalam pengembangan pesantren agribisnis ini Pondok pesantren harus bisa membentuk jaringan agribisnis. Pondok pesantren dapat bekerja sama dengan supermarket dalam pemasaran produk agribisnis yang dihasilkannya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Pondok pesantren Al-ittifaq di Bandung yang bekerja sama dengan Yogya, Matahari, Hero, Makro, Giant dan beberapa supermarket lainnya. Dengan banyaknya jaringan agribisnis yang dimiliki maka pondok pesantren ini mampu menyuplai produk agribisnis sebesar 3,5 ton per hari. Demikian juga pondok pesantren dapat bekerja sama dengan kelompok tani disekitar pondok pesantren untuk memasarkan hasil agribisnisnya kepada jaringan pemasaran yang dimiliki oleh pondok pesantren. Dengan demikian permintaan kuantitas dan kontinuitas produk agribisnis dapat selalu dipenuhi.

Networking agribisnis tidak hanya diantara pelaku usaha namun juga harus dilakukan dengan menggandeng sub sistem pendukung agribisnis diantaranya penyuluh pertanian, perbankan, dinas/instansi pemerintah, LSM dan lembaga sosial maupun stake holders lainnya. Semakin luas dan kuat networking yang terbangun maka semakin kuat usaha agribisnis dan semakin memberikan keuntungan yang lebih baik.

Dengan pengembangan pondok pesantren agribisnis ini diharapkan selain mendapatkan ilmu agama sebagai bekal hidup didunia dan akherat, para santri juga mendapatkan ilmu dan ketrampilan dalam bertani dan berbisnis. Dengan pesantren agribisnis ini pula maka biaya pendidikan di pondok pesantren dapat diminimalisirkan bahkan sebagian pondok pesantren sudah menggratiskan biaya pendidikan selama di pondok pesantren dan sebagai gantinya, santri harus bekerja dalam sistem agribisnis pesantren selain tetap harus mengerjakan tugas utama santri yaitu mengaji.

BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian mengenai pengembangan pondok pesantren menjadi organisasi agribisnis diatas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pondok pesantren memiliki potensi yang dapat dijadikan modal dalam pengembangan agribisnis, dintaranya lahan yang dimiliki, sumber daya santri, adanya client patron yang mampu mempengaruhi santri dan masyarakat sekitar pondok pesantren.

2. Pengembangan pondok pesantren menjadi organisasi agribisnis harus dipersiapkan dengan baik dengan memperkuat institusi baik yang berada di dalam maupun dari luar pondok pesantren.

3. Networking agribisnis diantara stake holders merupakan sarana untuk menjaga eksistensi organisasi agribisnis dalam jangka waktu yang panjang.

DAFTAR PUSTAKA

E. Wilk dan J. Fensterseifer. 2003. Towards A National Agribusiness System: A Conceptual Framework. International Food and Agribusiness Management Review Vol 6 Iss 2 2003.

Hadi, Agus Purbathin., Pemanfaatan Kelembagaan Pondok Pesantren Bagi Penyuluhan Pertanian Dan Pengembangan Agribisnis.

Hermanto. 2007. Model Sistem dan Usaha Agribisnis di Lahan Rawa Pasang Surut: Konsepsi dan Strategi Pengembangannya. Balai Litbang Hutan Tanaman. Palembang.

Ibrahim, Jabal Tarik. 2010. Bahan Ajar Organisasi Agribisnis pada Program Pasca Sarjana Manajemen Agribisnis. Universitas Muhammadiyah Malang.

Suradisastra, Kedi., 2008. Strategi Pemberdayaan Kelembagaan Petani. FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI, Volume 26 No. 2, Desember 2008. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian – Bogor.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Berkarya terus

Poskan Komentar