Pages

10 Februari 2011

Pengembangan Produk

Setiap perusahaan pasti menghasilkan sebuah produk, baik berupa barang maupun jasa. Produk inilah yang menjadi sumber pendapatan utama bagi setiap perusahaan. Sebuah perusahaan dikenal oleh para konsumen melalui produk yang dihasilkannya, sehingga dapat dikatakan sebuah perusahaan identik dengan produk yang dihasilkannya yang kemudian menjadi ikon dari perusahaan tersebut.

Ketika perusahaan akan meningkatkan pendapatan salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan pengembangan produk dan jasa baru yang akan dihasilkan. Selain itu adanya perubahan yang cepat dalam selera, teknologi dan persaingan yang ketat merupakan suatu kenyataan yang dapat kita lihat, sehingga banyak perusahaan yang bersaing memperebutkan peluang pasar baik itu perusahaan yang menghasilkan produk sejenis maupun perusahaan yang menghasilkan produk beragam.

Hal ini menuntut manajemen perusahaan untuk dapat melahirkan kiat-kiat alternatif (strategi) dalam mensiasati pasar, salah satunya dengan peluncuran produk inovasi baru (pioneer product). Sebuah perusahaan dapat memperoleh produk baru lewat dua cara yaitu (1) akuisisi yaitu dengan membeli seluruh perusahaan, hak paten, atau lisensi untuk membuat produk perusahaan lain, (2) lewat pengembangan produk baru dalam departemen litbang perusahaan sendiri yang berupa pengembangan produk asli, perbaikan produk, modifikasi produk, dan merek. (Kotler, 1987).

Dalam pengembangan produk dan jasa baru diperlukan suatu strategi yang sesuai sehingga produk tersebut bisa diterima oleh konsumen.

Ada banyak hal yang dipertaruhkan ketika mengembangkan produk baru atau jasa. Untuk meminimalkan resiko dan mengalokasikan sumber daya investasi dengan bijaksana, Anda harus mempertimbangkan beberapa faktor :

  • Apakah produk atau jasa baru yang akan dihasilkan memenuhi kebutuhan pelanggan dengan spesifikasinya?
  • Apakah produk atau jasa baru tersebut sudah layak untuk dipasarkan?
  • Apakah proses pembuatan produk ini sudah dikuasai dengan baik?
  • Diperlukan pemahaman terhadap produk pesaing.
  • Bagaimana strategi pemasaran produk baru yang akan dipakai.

Produk menurut Kerin, et. all (2003) adalah barang, jasa atau ide perbuatan yang nampak nyata maupun tidak nyata yang dapat memberi kepuasan pada konsumen dan dapat dinilai dengan uang atau ukuran lainya.

Menurut Elvira Syamsir (2009), Produk baru dapat dikelompokkan dalam berbagai definisi, yaitu produk yang benar-benar baru (belum pernah ada sebelumnya); hasil modifikasi produk yang sudah ada; dan atau hasil meniru produk yang sudah ada. Dalam proses pengembangan produk baru memiliki beberapa alasan yaitu peningkatan kualitas; peningkatan efisiensi proses / biaya; untuk memenuhi perubahan tuntutan konsumen; meningkatkan daya saing (kompetisi); meningkatkan keuntungan.

Kerin, et all (2003) membuat klasifikasi produk dalam dua tipe yaitu : berdasarkan tipe pengguna dan derajat dari kenyataan produk. Berdasarkan tipe pengguna dibedakan lagi menjadi barang konsumsi, yaitu produk yang dibeli oleh konsumen terakhir untuk digunakan dan barang bisnis, yaitu produk yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung kelengkapan produk untuk dijual lagi.

Menurut Swastha (1997) tahap-tahap dalam pengembangan produk meliputi:

1. Tahap Penyaringan.

Tahap Penyaringan dilakukan setelah berbagai macam ide tentang produk telah tersedia. Dalam tahap ini merupakan pemilihan sejumlah ide dari berbagai macam sumber. Adapun informasi atau ide berasal dari manager perusahaan, pesaing, para ahli termasuk konsultan, para penyalur, langganan, atau lembaga lain.

2. Tahap Analisa Bisnis.

Pada tahap ini msing-masing ide dianalisa dari segi bisnis untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan ide tersebut dapat menghasilkan laba.

3. Tahap Pengembangan.

Pada tahap ini, ide-ide yang telah dianalisa perlu dikembangkan karena ide-ide tersebut dianggap lebih menguntungkan. Pengembangan ini tentunya harus sesuai dengan kemampuan perusahaan.

4. Tahap Pengujian.

Tahap pengujian merupakan kelanjutan dari tahap pengembangan, meliputi:

· Pengujian tentang konsep produk

· Pengujian terhadap kesukaan konsumen

· Penelitian laboratorium

· Test penggunaan

· Operasi pabrik percontohan

· Tahap Komersialisasi

Tahap ini merupakan tahap terakhir dari rangkaian pengembangan produk baru. Pada tahap ini semua fasilitas telah disiapkan baik itu fasilitas produksi maupun fasilitas pemasaran (http://jurnal-sdm.blogspot.com).

Sedangkan Kerin, et all (2003) menjelaskan tahapan pengembangan produk baru sebagai berikut :

1. Strategi Pengembangan Produk Baru (New Product Strategi Development)

  • Menentukan peran untuk produk baru dalam kaitannya dengan tujuan-tujuan perusahaan.
  • Memberikan fokus untuk ide-ide dan konsep-konsep yang dikembangkan kemudian.

2. Pemunculan Ide (Ide Generation)

Tahapan ini merupakan pencarian peluang produk baru secara terus menerus dan sistematik. Tahapan ini dilakukan untuk menemukan gagasan-gagasan baru dan segara mengenai penciptaan produk.

3. Evaluasi dan Penyaringan (Screening and Evaluation)

Evaluasi internal dan eksternal dari ide-ide produk baru untuk mengambil ide yang sesuai dan menghilangkan ide-ide yang tidak perlu upaya lebih lanjut.

4. Analisis Bisnis (Business Analisys)

Analisis bisnis meliputi ; penentuan spesifikasi produk; Strategi pemasaran yang diperlukan untuk mengkomersialkan produk; Membuat proyeksi keuangan yang diperlukan; Menentukan patent atau hak cipta dari produk.

5. Pengembangan Produk (Product Development)

Ide yang sudah muncul kemudian dituangkan ke dalam bentuk produk awal (prototipe) untuk selanjutnya didemontrasikan / diuji.

6. Pengujian Pasar (Market Testing)

Mengekspos produk yang sebenarnya kepada calon konsumen, serta dievaluasi bagaimana tanggapan real konsumen terhadap produk yang kita tawarkan.

7. Komersialisasi (Commercialization)

Komersialisasi adalah pluncuran produk dalam skala penuh dalam bentuk penjulan kepada konsumen.

Seperti halnya manusia, setiap produk juga mengalami kelahiran dan kematian baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu produk bisa saja pada suatu waktu sangat disukai banyak orang dan laku keras, namun di lain waktu produk itu tidak laku lagi dijual. Jadi pengertian daur hidup produk yaitu tahapan suatu produk mulai dari lahir, tumbuh, dewasa dan mati. Setiap produk memiliki masa daur hidup produk yang berbeda. Produk elektronik biasanya memiliki rentang waktu yang sempit alias cepat mati sedangkan produk seperti makanan dapat bertahan lebih lama.

Menurut Philip Kotler ( 2006), Pemasaran adalah Suatu proses sosial, dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan, dan mereka inginkan dengan menciptakan dan mempertahankan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya (dalam Arlina Nurbaity L, 2004).

Leo Williyanto S, Penerapan Metode Design For Production (DFP) Untuk Meningkatkan Proses Pengembangan Produk. Keberhasilan pengembangan suatu produk baru sangat membutuhkan kemampuan untuk memprediksi pada awal proses pengembangan produk, yang nantinya berpengaruh pada suatu desain produk. Berbagai metode dan pendekatan telah dikembangkan untuk meningkatkan proses pengembangan sebuah produk baru. Design for Production (DFP) berhubungan dengan metode-metode yang mengevaluasi performance sistem manufaktur sebagai sebuah fungsi dari variabel desain produk. DFP dapat mengarahkan tim pengembangan produk untuk memperhatikan perubahan pada desain produk untuk menghindari masalah yang bakal terjadi dan untuk meningkatkan keuntungan. Selain itu, DFP dapat menghasilkan saran-saran untuk meningkatkan sistem manufaktur.

Pendekatan ini menyediakan metode-metode untuk tim pengembang produk untuk mengevaluasi performa dari sistem manufaktur sebelum proses produksi dimulai. Tool-tool berdasarkan pendekatan ini akan lebih baik apabila diterapkan selama tahap awal dari proses pengembangan produk baru. Meskipun begitu, setiap perusahaan juga harus menentukan bagaimana untuk menerapkan pendekatan DFP untuk merefleksikan fitur-fitur khusus dari pasar dan proses pengembangan produknya. Secara khusus, pihak organisasi harus mengidentifikasi aspek-aspek yang mana dari desain produk yang secara substansial mempengaruhi performa sistem manufaktur dan mengembangkan model dan metode untuk estimasi, dimana performa sebagai sebuah fungsi dari atribut-atribut desain yang relevan.

Hasil uji coba yang telah dilakukan dengan melakukan perubahan desain untuk meningkatkan performa menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Desain For Production secara signifikan dapat meningkatkan kapasitas produk sampai lebih dari 40% tanpa melakukan pengurangan dalam jumlah komponen sebelumnya. Perubahan desain yang dilakukan menyertakan perpindahan komponen dari satu tempat ke tempat lainnya sehingga dapat berlangsung routing produk yang lebih sesuai.

Michael Adiwijaya, Perluasan Merek : “Strategi Jitu Peluncuran Produk Baru”. Strategi perluasan merek bukan hal yang baru dalam dunia pemasaran, dimana strategi pengembangan merek ini banyak digunakan oleh praktisi – praktisi pemasaran di dalam aktivitas peluncuran produk baru. Penggunaan strategi tersebut didasarkan pada pertimbangan besarnya biaya iklan untuk meningkatkan brand awareness dari produk baru, adanya ikatan emosional antara konsumen dengan merek yang memiliki ekuitas yang tinggi, dan waktu proses adopsi dari respon konsumen yang relatif lebih singkat. Strategi perluasan merek memiliki kekuatan dan kelemahan, demikian halnya dengan strategi pengembangan merek lainnya. Setiap peluncuran produk baru, baik yang menggunakan strategi merek baru ataupun strategi perluasan merek tetap memiliki resiko yang sama besarnya.

Membangun ekuitas merek yang kuat adalah isu utama bagi pihak top manajemen karena hal tersebut ikut menentukan nilai dari sebuah perusahaan. Jika suatu produk telah memiliki ekuitas merek yang kuat, maka dengan mudahnya mereka dapat mengembangkan mereknya melalui berbagai macam strategi seperti co-branding, brand extention, line extension serta beberapa strategi pengembangan merek lainnya. Perluasan merek atau brand extension dewasa ini lazim digunakan oleh perusahaan – perusahaan di Indonesia sejak adanya krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1997.

Menurut Helen Wing, Director of the Marketing Science Centre at Research International menyatakan bahwa produk baru dengan merek yang benar – benar baru membutuhkan usaha pemasaran dari segi waktu dan biaya yang lebih banyak untuk memperkenalkan merek dan membangun awareness konsumen.

Menyadari dan mempertimbangkan bahwa strategi perluasan merek juga memiliki keterbatasan dan kelemahan dalam aplikasinya, maka perusahaan juga perlu untuk mempelajari mengapa perluasan merek dapat gagal di pasar. Ada tiga faktor utama penyebab kegagalan sebuah strategi perluasan merek (Wing, 2004) yaitu:

a. Tidak adanya perbedaan dari merek induk

b. Kualitas produk kurang baik

c. Tidak adanya support pemasaran yang baik.

Dari ketiga faktor utama kegagalan tersebut diatas maka perusahaan harus benar – benar mempersiapkan produk baru yang akan diluncurkan dimana atribut – atribut produk harus berbeda dengan atribut – atribut produk merek induk. Pemasar hendaknya tidak hanya mengandalkan ekuitas merek yang tinggi dari merek induk saja tetapi juga harus menyediakan aktivitas – aktivitas pemasaran pendukung untuk memperkuat posisi dari produk baru tersebut.

Michael Adiwijaya, Analisa Strategi Reposisi Merek Dalam Persaingan Pasar. Ketatnya persaingan pasar dan perubahan–perubahan yang terjadi di pasar membuat para pemasar harus menerapkan sebuah strategi yang tepat untuk dapat bertahan dan mengikuti perubahan pasar serta bahkan tampil sebagai pemimpin pasar. Strategi reposisi merek merupakan salah satu alternatif strategi perubahan yang dapat diterapkan oleh pemasar dalam situasi dan kondisi pasar tertentu. Penerapan strategi ini harus dilakukan dengan berlandaskan pada pemahaman akan konsep dasar reposisi merek.

Mempertimbangkan pentingnya peran positioning pada keberhasilan suatu produk, maka terdapat tiga langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan positioning (Kotler, 2003):

1. Mengidentifikasi keunggulan–keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh perusahaan. Untuk mendapatkan keunggulan bersaing (competitive advantage) maka perusahaan harus melakukan kegiatan diferensiasi atas penawaran kepada konsumen yang berbeda dibandingkan dengan penawaran dari pesaing. Diferensiasi dapat dilakukan melalui inovasi pada bauran pemasaran (marketing mix) seperti atribut produk, harga, saluran distribusi, dan juga aktivitas komunikasi pemasaran.

2. Memilih salah satu atau lebih keunggulan kompetitif yang dimiliki untuk dikomunikasikan dan diposisikan dalam benak konsumen. Adapun persyaratan suatu keunggulan untuk dapat dipilih dan dikomunikasikan adalah:

· Sesuatu yang penting bagi konsumen

· Sesuatu yang khas dan unik

· Bernilai superior

· Mudah dikomunikasikan

· Sesuatu yang baru/pioner

· Terjangkau (daya beli)

· Dapat memberikan keuntungan

Strategi reposisi merek harus diimplementasikan pada momentum yang tepat untuk dapat memberikan hasil dan dampak yang efektif dalam peningkatan pangsa pasar. Menurut Ramesh Kumar seorang Professor Marketing dari Indian Institute of Management di Bangalore India, memberikan persyaratan waktu, situasi dan kondisi yang tepat untuk mempraktekkan strategi reposisi merek.

Berikut beberapa kondisi yang tepat untuk mengimplementasikan strategi reposisi merek adalah:

1. Pada waktu banjirnya penawaran–penawaran produk baru.

Strategi reposisi merek dapat dilakukan ketika terjadi banjir penawaran – penawaran baru di pasar yang berpotensi untuk menggeser posisi dari merek yang sudah mapan (establish brand). Sehingga implementasi dari strategi reposisi merek dibutuhkan untuk memberikan penekanan kembali akan eksistensi mereknya.

2. Pada saat merek yang sudah mapan tidak dapat memberikan penawaran akan fitur atau varian yang sama dengan yang telah ditawarkan oleh merek – merek baru (new brand).

Pada kondisi tersebut, merek yang mapan kalah bersaing dengan merek–merek yang baru sehingga timbul kebutuhan bagi merek yang mapan untuk mereposisi keberadaan mereka. Maka dari itu establish brand harus mereposisi mereknya dengan cara memberikan penekanan pada apa yang menjadi kehendak dari konsumen dan berusaha untuk mencari cara–cara pemasaran baru yang dapat menarik minat dari konsumen.

3. Ketika citra temporer dibutuhkan pada kategori –kategori produk tertentu sebagai akibat dari adanya perubahan psikografis konsumen.

Apabila terjadi perubahan psikografis konsumen pada suatu kategori produk tertentu, maka strategi reposisi merek dapat diimplementasikan untuk menciptakan citra sesuai dengan adanya perubahan tersebut.

4. Jika suatu merek ingin mengganti target pasar mereka karena minat pembelian yang rendah atas suatu kategori produk.

Terkadang suatu merek memiliki pangsa pasar yang rendah atau mengalami stagnasi pertumbuhan pasar, bukan karena implementasi faktor bauran pemasaran (marketing mix) yang salah. Tetapi bisa jadi karena salah dalam menentukan target pasar atau kurang memahami karakter dan keinginan dari konsumennya.

5. Ketika suatu merek ingin mengkomunikasikan penawaran–penawaran baru yang lebih menarik.

Eksekusi komunikasi pemasaran yang kurang tepat juga turut mempengaruhi efektifitas dari positioning yang dilakukan oleh pemasar. Strategi reposisi merek dapat digunakan apabila pemasar hendak mengkomunikasikan pesan baru ataupun penawaran baru kepada konsumen.

Kombinasi dari aspek harga dan kualitas yang dapat dijadikan strategi dalam positioning adalah More for More, More for The Same, More for Less, The Same for Less, dan Less for Much Less. Berikut penjelasan dari ke-lima kombinasi strategi dimaksud.

· More for More adalah strategi positioning yang menekankan kepada konsumen bahwa kualitas merek produk perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan kualitas merek produk pesaing dengan penetapan harga yang lebih tinggi pula dibandingkan harga produk pesaing.

· More for The Same adalah strategi positioning yang menekankan kepada konsumen bahwa kualitas dari merek produk perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan kualitas merek produk pesaing dengan penetapan harga yang sama dengan harga produk pesaing.

· More for Less adalah strategi positioning yang menekankan kepada konsumen bahwa kualitas dari merek produk perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan kualitas merek produk pesaing dengan penetapan harga yang lebih murah dibandingkan harga produk pesaing.

· The Same for Less adalah strategi positioning yang menekankan kepada konsumen bahwa kualitas dari merek produk perusahaan sama dengan kualitas produk merek pesaing dengan penetapan harga yang lebih murah dibandingkan harga produk pesaing.

· Less for Much Less adalah strategi positioning yang menekankan kepada konsumen bahwa kualitas dari merek produk perusahaan lebih rendah sedikit dari kualitas produk merek pesaing dengan penekanan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga produk pesaing

1 komentar:

Share it